Materi Pembelajaran 10
1.1. Latar Belakang
Indonesia, sebuah negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau, memiliki posisi geografis yang unik dan strategis. Berada di antara dua samudra (Hindia dan Pasifik) serta dua benua (Asia dan Australia), posisi ini membawa konsekuensi ganda: potensi kekayaan alam yang melimpah sekaligus kerentanan terhadap ancaman dari luar.
Untuk menjaga eksistensi dan mencapai cita-cita nasional,
bangsa Indonesia merumuskan suatu cara pandang dan sikap yang disebut Wawasan
Nusantara (Wasantara). Konsep ini bukan sekadar dogma kewilayahan,
melainkan panduan integratif yang menyelaraskan seluruh aspek kehidupan
nasional, dengan fokus pada persatuan dan kesatuan.
1.2. Pengertian dan Hakikat Wawasan Nusantara
Wawasan Nusantara adalah cara pandang dan sikap
bangsa Indonesia mengenai diri dan bentuk geografisnya berdasarkan ideologi
Pancasila dan UUD 1945, yang mengutamakan kesatuan wilayah dan persatuan bangsa
demi tercapainya tujuan nasional.
Hakikat Wawasan Nusantara adalah keutuhan
nusantara, yang berarti seluruh wilayah Indonesia beserta isinya harus
dipandang sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Seluruh elemen
kehidupan nasional, baik politik, ekonomi, sosial, budaya, maupun pertahanan
keamanan, berada dalam satu kesatuan ruang lingkup ini.
II. KONSEP GEOPOLITIK: KESATUAN WILAYAH SEBAGAI MODAL
POLITIK
2.1. Definisi Geopolitik
Geopolitik adalah studi yang mengkaji hubungan antara
faktor-faktor geografis dengan kebijakan luar negeri dan kekuasaan suatu
negara. Secara akademis, geopolitik mengintegrasikan dimensi ruang (geo)
dengan dimensi kekuasaan (politik) untuk memahami strategi sebuah
negara.
Geopolitik Indonesia, yang terwujud dalam Wawasan Nusantara,
merupakan pemikiran strategis yang menempatkan wilayah sebagai kesatuan ruang
hidup yang utuh, yang akan menentukan cara bangsa Indonesia mengelola dan
memanfaatkan kekuasaan politiknya untuk mencapai tujuan nasional.
2.2. Teori Negara Kepulauan (Archipelagic State)
Wawasan Nusantara berakar kuat pada konsep Negara
Kepulauan. Secara historis, konsep ini lahir dari kebutuhan untuk
menyatukan perairan antarpulau yang sebelumnya dianggap sebagai laut bebas
berdasarkan hukum laut kolonial (Territoriale Zee en Maritieme Kringen
Ordonnantie 1939).
2.2.1. Deklarasi Djuanda (13 Desember 1957)
Deklarasi ini adalah tonggak geopolitik Indonesia. Isinya
menyatakan bahwa:
- Segala
perairan di sekitar, di antara, dan yang menghubungkan pulau-pulau yang
termasuk daratan Negara Republik Indonesia adalah bagian-bagian yang wajar
daripada wilayah daratan Negara Republik Indonesia.
- Penentuan
batas laut teritorial yang lebarnya 12 mil diukur dari garis dasar (baseline)
yang ditarik dari titik terluar pulau-pulau terluar.
2.2.2. Pengakuan Internasional (UNCLOS 1982)
Perjuangan diplomatik yang panjang akhirnya membuahkan hasil
dengan disahkannya Konvensi Hukum Laut Internasional (UNCLOS) tahun 1982
di Montego Bay, Jamaika. UNCLOS secara resmi mengakui konsep Negara Kepulauan
(Pasal 46 dan 47), memberikan Indonesia hak kedaulatan atas:
- Perairan
Internal/Nusantara: Perairan di dalam garis dasar, yang sepenuhnya
kedaulatan Indonesia.
- Laut
Teritorial: Jalur laut selebar 12 mil laut dari garis dasar, dengan
kedaulatan penuh.
- Zona
Tambahan: Jalur laut 12 mil di luar Laut Teritorial.
- Zona
Ekonomi Eksklusif (ZEE): Jalur laut selebar 200 mil laut dari garis
dasar, di mana Indonesia memiliki hak berdaulat untuk eksploitasi sumber
daya.
- Landas
Kontinen: Dasar laut dan tanah di bawahnya yang merupakan kelanjutan
alami dari daratan, tempat Indonesia memiliki hak eksploitasi.
2.3. Implementasi Geopolitik: Panca Gatra
Wawasan Nusantara mengamanatkan bahwa geopolitik harus
diimplementasikan melalui pembangunan yang mencakup lima aspek kehidupan
nasional (Panca Gatra):
- Ideologi:
Pancasila sebagai landasan filosofis pemersatu dan orientasi politik
bangsa.
- Politik:
Menciptakan iklim pemerintahan yang sehat dan dinamis serta menjamin
keutuhan politik negara.
- Ekonomi:
Pengelolaan sumber daya untuk kemakmuran rakyat yang merata dan
berkeadilan.
- Sosial
Budaya: Menghormati dan memelihara keragaman suku, agama, ras, dan
antargolongan (SARA) sebagai kekayaan nasional.
- Pertahanan
dan Keamanan (Hankam): Kesiapan seluruh elemen bangsa untuk
mempertahankan kedaulatan dan keutuhan wilayah dari segala bentuk ancaman.
Kesimpulan Geopolitik: Wawasan Nusantara mengubah
cara pandang dari "laut sebagai pemisah" menjadi "laut
sebagai penghubung dan pemersatu" seluruh wilayah dan bangsa
Indonesia. Ini adalah Grand Strategy politik wilayah.
III. KONSEP GEOEKONOMI: POTENSI KEMAKMURAN BERBASIS
MARITIM
3.1. Definisi Geoekonomi
Geoekonomi adalah penggunaan instrumen ekonomi
(perdagangan, investasi, bantuan, sanksi, atau jalur konektivitas) untuk
mencapai tujuan geopolitik. Geoekonomi melihat bagaimana konfigurasi geografis,
sumber daya alam, dan lokasi strategis dapat dikonversi menjadi keunggulan
ekonomi dan pengaruh global.
Bagi Indonesia, geoekonomi berfokus pada pemanfaatan posisi
strategisnya sebagai pusat jalur logistik dan perdagangan global untuk
meningkatkan daya saing, kemakmuran, dan kemandirian ekonomi.
3.2. Posisi Strategis dan Potensi Geoekonomi Indonesia
Secara geoekonomi, Indonesia memiliki empat keunggulan
utama:
- Jalur
Perdagangan Global (Sistem Logistik): Indonesia berada di persimpangan
vital dua samudra, mengontrol beberapa Choke Points (titik
hambatan/selat strategis), seperti Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat
Lombok. Sekitar 40% dari total perdagangan laut dunia melewati perairan
ini. Keunggulan ini adalah daya tawar (bargaining position) yang kuat
dalam diplomasi ekonomi dan geopolitik global.
- Kekayaan
Maritim (Blue Economy): Dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia
dan luasan laut yang melebihi daratan, Indonesia memiliki potensi tak
terbatas dari perikanan, energi kelautan, pariwisata bahari, dan
bioteknologi kelautan. Geoekonomi menuntut pengelolaan Blue Economy
yang berkelanjutan dan berbasis teknologi.
- Sumber
Daya Mineral Strategis: Indonesia adalah produsen dan pengekspor
komoditas penting seperti nikel, batu bara, timah, dan kelapa sawit.
Geoekonomi mendorong agar sumber daya ini tidak hanya diekspor mentah,
tetapi melalui proses hilirisasi untuk menciptakan nilai tambah di
dalam negeri (misalnya, pembangunan industri baterai kendaraan listrik
berbasis nikel).
- Demografi
Produktif: Jumlah penduduk yang besar jika dikelola dengan baik akan
menjadi pasar domestik yang kuat dan modal tenaga kerja produktif,
menopang pertumbuhan ekonomi dari dalam.
3.3. Implementasi Geoekonomi: Visi Poros Maritim Dunia
(PMD)
Visi Poros Maritim Dunia (PMD) adalah strategi
geoekonomi utama Indonesia. PMD adalah upaya untuk mengembalikan dan memperkuat
identitas Indonesia sebagai bangsa maritim, dengan lima pilar utama:
- Pembangunan
Kembali Budaya Maritim: Menumbuhkan kecintaan dan kesadaran masyarakat
terhadap laut.
- Pengelolaan
Sumber Daya Laut: Memanfaatkan sumber daya laut secara berkelanjutan
dan melawan praktik Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing.
- Pengembangan
Infrastruktur dan Konektivitas Maritim: Membangun Sea Toll (Tol
Laut) dan pelabuhan-pelabuhan pendukung untuk menekan biaya logistik dan
meratakan harga antarwilayah.
- Diplomasi
Maritim: Mendorong kerja sama internasional di bidang kelautan dan
penanganan kejahatan lintas negara.
- Pembangunan
Kekuatan Pertahanan Maritim: Menjaga kedaulatan laut dan mengamankan
jalur pelayaran.
Kesimpulan Geoekonomi: Wawasan Nusantara memberikan
lensa bagi Indonesia untuk mengubah keunggulan posisi geografis (dikelilingi
laut) menjadi keunggulan ekonomi, melalui penguatan konektivitas logistik dan
pengembangan Blue Economy.
IV. TANTANGAN DAN PENGUATAN WAWASAN NUSANTARA
4.1. Tantangan Geopolitik
Tantangan utama geopolitik modern adalah sengketa batas
wilayah, terutama di perbatasan laut (unresolved maritime boundaries)
dan ancaman separatisme yang mengikis persatuan bangsa. Konflik di Laut China
Selatan juga memberikan tekanan geopolitik yang memerlukan ketegasan diplomasi
dan kesiapan pertahanan.
4.2. Tantangan Geoekonomi
Tantangan geoekonomi meliputi:
- Kesenjangan
Pembangunan: Kesenjangan ekonomi antara wilayah Barat dan Timur
Indonesia yang menghambat kesatuan ekonomi.
- Ketergantungan
Ekspor Komoditas: Belum optimalnya hilirisasi dan diversifikasi
industri, membuat ekonomi rentan terhadap fluktuasi harga komoditas
global.
- Daya
Saing Logistik: Biaya logistik nasional yang masih tinggi menghambat
efisiensi ekonomi.
4.3. Penguatan Wawasan Nusantara
Penguatan Wawasan Nusantara mensyaratkan:
- Penguatan
Karakter: Membangun kesadaran kolektif bahwa ancaman terhadap satu
daerah adalah ancaman terhadap seluruh bangsa.
- Pemerataan
Pembangunan: Strategi pembangunan harus fokus pada pemerataan dan
konektivitas (Tol Laut, Trans-Papua, Trans-Sulawesi) untuk mewujudkan
kesatuan ekonomi.
- Diplomasi
Total: Menggunakan seluruh kekuatan nasional (politik, ekonomi,
budaya) untuk memperjuangkan kepentingan nasional di kancah global.
V. PENUTUP
Wawasan Nusantara adalah satu-satunya landasan pandang yang
memungkinkan Indonesia yang multikultural dan multigeografis untuk tetap
bersatu. Ia adalah Geopolitik Indonesia yang merangkul keragaman dan menyatukan
daratan dan lautan. Sejalan dengan perkembangan zaman, Wawasan Nusantara
bertransformasi menjadi kerangka Geoekonomi melalui visi Poros Maritim Dunia,
menegaskan bahwa kedaulatan politik harus ditopang oleh kemandirian dan
kemakmuran ekonomi yang merata.
VI. LAMPIRAN
A. Pertanyaan Pemantik (Diskusi Awal)
- Mengapa
Deklarasi Djuanda dianggap sebagai momen paling krusial dalam sejarah
geopolitik Indonesia?
- Bagaimana
konsep ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) memengaruhi strategi geoekonomi
Indonesia saat ini?
- Selain
Selat Malaka, jalur maritim manakah di Indonesia yang memiliki
signifikansi geoekonomi global? Jelaskan alasannya.
- Seandainya
geopolitik Indonesia tidak diakui melalui UNCLOS 1982, tantangan besar apa
yang akan dihadapi oleh negara kepulauan seperti Indonesia?
- Dalam
konteks Panca Gatra, apa hubungan paling mendasar antara Gatra Sosial
Budaya dan Gatra Hankam?
B. Pertanyaan Reflektif (Pemikiran Mendalam)
- Sejauh
mana Anda sebagai warga negara telah mengimplementasikan nilai-nilai
Wawasan Nusantara dalam kehidupan sehari-hari (misalnya dalam menyikapi
isu SARA atau produk lokal)?
- Jika
Anda adalah Menteri Perencanaan Pembangunan, strategi geoekonomi baru apa
yang akan Anda prioritaskan untuk mengurangi kesenjangan pembangunan
antara Indonesia bagian Barat dan Timur?
- Bagaimana
perubahan iklim dan kenaikan permukaan air laut dapat menjadi tantangan
eksistensial bagi geopolitik dan geoekonomi Indonesia?
- Wawasan
Nusantara menuntut kesatuan politik. Tantangan polarisasi politik dan
penyebaran berita bohong (hoax) saat ini, apakah mengikis Wawasan
Nusantara? Berikan analisis kritis Anda.
- Visi
Poros Maritim Dunia berfokus pada laut. Bagaimana daratan (misalnya
pulau-pulau di pedalaman) dapat secara aktif berintegrasi dan mendukung
visi geoekonomi ini?
C. Daftar Pustaka (Referensi Utama)
- Kementerian
Pertahanan Republik Indonesia. (2020). Buku Putih Pertahanan Indonesia
2020. Jakarta: Kemhan RI.
- Lembaga
Ketahanan Nasional (Lemhannas) Republik Indonesia. (2018). Wawasan
Nusantara dan Ketahanan Nasional. Jakarta: Lemhannas RI.
- Parthiana,
I Wayan. (2013). Hukum Laut Internasional dan Hukum Laut Indonesia.
Bandung: Yrama Widya.
- Riyanto,
A. (2016). Geopolitik dan Geoekonomi Indonesia. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.
- Suhady,
I. (2017). Pendidikan Kewarganegaraan: Wawasan Nusantara. Jakarta:
Prenadamedia Group.
- UNCLOS.
(1982). United Nations Convention on the Law of the Sea. Montego
Bay, Jamaica.
- Wiryanto.
(2015). Kajian Wawasan Nusantara: Konsepsi Geopolitik Indonesia.
Yogyakarta: Penerbit Andi.
D. 25 Hashtag
- #WawasanNusantara
- #GeopolitikIndonesia
- #Geoekonomi
- #IndonesiaMaritim
- #PorosMaritimDunia
- #DeklarasiDjuanda
- #UNCLOS1982
- #NegaraKepulauan
- #KedaulatanNKRI
- #PancaGatra
- #Trigatra
- #KesatuanBangsa
- #KeutuhanWilayah
- #Hilirisasi
- #BlueEconomy
- #TantanganGlobal
- #LogistikNasional
- #StrategiNasional
- #LautSebagaiPemersatu
- #PembangunanMerata
- #KepulauanIndonesia
- #JalurPerdagangan
- #KetahananNasional
- #Pancasila
- #CintaTanahAir

This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteJawaban Pertanyaan Pemantik
ReplyDelete1. Mengapa Deklarasi Djuanda dianggap sebagai momen paling krusial dalam sejarah geopolitik Indonesia?
Karena Deklarasi Djuanda (1957) menetapkan bahwa laut di antara pulau-pulau Indonesia adalah perairan nasional, bukan laut bebas. Ini mengubah Indonesia dari negara archipelago of islands menjadi negara kepulauan yang utuh dan berdaulat, dan menjadi dasar diterimanya konsep archipelagic state dalam UNCLOS 1982.
2. Bagaimana konsep ZEE memengaruhi strategi geoekonomi Indonesia saat ini?
ZEE memberi Indonesia hak mengelola sumber daya laut hingga 200 mil dari garis pantai. Ini membuat Indonesia mampu memperluas potensi ekonomi lewat:
1.Perikanan industri
2.Energi laut dan migas
3.Jalur perdagangan laut
4.Kedaulatan ekonomi di wilayah strategis
Sehingga ZEE menjadi pilar kekuatan geoekonomi maritim Indonesia.
3. Selain Selat Malaka, jalur maritim mana yang memiliki signifikansi geoekonomi global?
Selat Sunda dan Selat Lombok.
Alasannya:
1.Menjadi jalur alternatif internasional jika Selat Malaka padat.
2.Kedalamannya cocok untuk kapal besar (super tanker).
3.Menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik, sangat penting dalam perdagangan global.
4. Jika geopolitik Indonesia tidak diakui melalui UNCLOS 1982, tantangan apa yang dihadapi negara kepulauan?
1.Laut antar-pulau akan dianggap laut internasional → rawan kapal asing bebas masuk.
2.Indonesia sulit menjaga kedaulatan dan keamanan.
Sumber daya melimpah seperti perikanan dan migas bisa dijarah asing.
3.Kesatuan wilayah terancam karena pulau-pulau tidak dianggap satu kesatuan geografis.
5. Dalam konteks Panca Gatra, apa hubungan mendasar antara Gatra Sosial Budaya dan Gatra Hankam?
Sosial budaya yang kuat menciptakan persatuan dan identitas nasional, yang menjadi fondasi stabilitas keamanan (Hankam).
Tanpa budaya yang rukun dan toleran, pertahanan sulit kokoh karena masyarakat rentan terpecah.
Jawaban Pertanyaan Reflektif
1. Implementasi nilai Wawasan Nusantara dalam kehidupan sehari-hari
Contohnya:
1.Menghindari konflik dan ujaran SARA; menjaga toleransi.
2.Mengutamakan produk lokal sebagai bentuk cinta tanah air.
3.Mendukung keberagaman budaya tanpa diskriminasi.
4.Ikut menjaga lingkungan dan fasilitas publik.
2. Jika menjadi Menteri PPN, strategi geoekonomi untuk mengurangi kesenjangan Barat-Timur
1.Mempercepat pembangunan konektivitas (bandara, pelabuhan, jalan antar-pulau).
2.Hilirisasi sumber daya di Papua, Maluku, NTT, bukan hanya Jawa.
3.Membangun pusat industri perikanan, perhubungan, dan energi di kawasan Indonesia Timur.
4.Memberikan insentif investasi dan pendidikan vokasi di daerah tertinggal.
3. Bagaimana perubahan iklim dan kenaikan air laut menjadi tantangan eksistensial?
1.Banyak pulau kecil bisa tenggelam, mengancam batas wilayah negara.
2.Mengganggu sentra ekonomi pesisir (nelayan, pelabuhan, industri maritim).
3.Memunculkan konflik batas laut baru dengan negara tetangga.
4.Menimbulkan migrasi penduduk besar-besaran dari daerah pesisir.
4. Apakah polarisasi politik dan hoax mengikis Wawasan Nusantara?
Ya.
Polarisasi membuat masyarakat terpecah menjadi “kelompok-kelompok” yang saling menyerang, merusak persatuan. Hoax memperburuk konflik sosial, melemahkan kepercayaan pada negara, dan mengancam stabilitas politik. Semua ini bertentangan dengan nilai Wawasan Nusantara yang mengutamakan persatuan nasional.
5. Bagaimana wilayah daratan dapat mendukung visi Poros Maritim Dunia?
1.Membangun industri pendukung maritim (perkapalan, logistik, makanan laut) di daratan.
2.Menyediakan SDM unggul lewat sekolah vokasi maritim, teknik, dan logistik.
3.Memperkuat konektivitas dari pedalaman ke pelabuhan.
4.Mendorong UMKM darat untuk masuk rantai pasok maritim.
5.Mengembangkan pariwisata berbasis budaya dan alam yang terhubung ke jalur laut.
jawaban pemantik:
ReplyDelete1. Karena Deklarasi Djuanda menyatukan seluruh wilayah Indonesia sebagai negara kepulauan dan memperluas kedaulatan laut secara resmi.
2. Karena ZEE memberikan hak eksklusif Indonesia mengelola sumber daya laut hingga 200 mil, sehingga memperkuat ekonomi maritim dan diplomasi pertahanan ekonomi.
3. Selat Sunda, Selat Lombok, Selat Makassar, dan Laut Natuna Utara, karena menjadi jalur pelayaran internasional penting serta kaya sumber daya strategis.
4. Indonesia akan kehilangan kedaulatan atas laut antar-pulau, potensi SDA bisa dikuasai asing, keamanan maritim lemah, dan keutuhan wilayah terancam.
5. Gatra Sosial Budaya membangun persatuan bangsa, sedangkan Gatra Hankam menjaga keamanan dan keutuhan; keduanya saling menopang ketahanan nasional.
Jawaban reflektif:
1. Contoh implementasi: memilih dan membeli produk lokal, menolak sentimen SARA dalam percakapan sehari-hari, aktif mengikuti kegiatan gotong royong/lingkungan, dan menyebarkan informasi faktual untuk menjaga kerukunan.
2. Prioritas strategi geoekonomi: percepat konektivitas maritim–daratan (pelabuhan, tol laut + jaringan jalan/relokasi logistik), kembangkan hilirisasi sumber daya di kawasan timur (zona ekonomi khusus & insentif investasi), investasi besar pada SDM dan digital infrastructure di Timur, serta skema fiskal/transfer yang mengikat pembangunan riil (infrastruktur + pendidikan + kesehatan).
3. Risiko perubahan iklim: kenaikan muka air laut dan erosi pantai mengancam pulau terpencil, mengganggu ZEE dan infrastruktur pelabuhan, merusak perikanan dan pertanian pesisir, memicu migrasi internal dan konflik sumber daya — semuanya berdampak geopolitis dan ekonomi. Respon: adaptasi pesisir, konservasi mangrove/blue carbon, diversifikasi ekonomi, dan perencanaan spasial berbasis risiko.
4. Polarisasi & hoaks mengikis Wawasan Nusantara bila tidak dikendalikan — mereka melemahkan rasa kebersamaan dan melembagakan kecurigaan antarkelompok. Penyebab: ketimpangan, echo chambers media sosial, rendahnya literasi media. Solusi kritis: pendidikan kewarganegaraan, peningkatan literasi digital, penegakan aturan platform, dialog antar-komunitas, dan kebijakan publik yang inklusif.
5. Integrasi daratan ke visi maritim: bangun konektivitas multimoda (jalan, rel kereta, sungai) ke pelabuhan; dorong pengolahan bahan mentah di pedalaman agar nilai tambah tetap di wilayah; perkuat layanan digital/keuangan untuk petani/pelaku UMKM; dan kembangkan koridor ekonomi agro–maritim yang menghubungkan produksi darat dengan rantai ekspor laut.
A. Pertanyaan Pemantik
ReplyDelete1. Kenapa Deklarasi Djuanda krusial?
Karena itu mengubah Indonesia dari “kumpulan pulau” jadi negara kepulauan secara hukum. Tanpa ini, laut antar-pulau bisa dianggap laut internasional.
2. Dampak ZEE untuk strategi geoekonomi?
ZEE memberi hak eksklusif atas sumber daya laut 200 mil. Artinya: ikan, energi, mineral = aset ekonomi yang perlu dijaga, dieksploitasi, dan dinegosiasikan dengan serius.
3. Jalur selain Selat Malaka yang penting?
Lombok–Makassar, Sunda, Ombai–Wetar. Alasannya: kapal besar lewat sana, rute energi global, dan jalur kabel bawah laut.
4. Kalau UNCLOS tidak mengakui Indonesia sebagai negara kepulauan?
Indonesia akan susah klaim ZEE, rawan intervensi asing di perairan antar-pulau, sulit mengatur pelayaran, dan kehilangan kekuatan hukum maritim.
5. Hubungan Gatra Sosial Budaya dan Gatra Hankam?
Masyarakat yang solid dan punya identitas bersama bikin pertahanan-keamanan lebih kuat. Sosial budaya runtuh, hankam ikut rapuh.
B. Pertanyaan Reflektif (Super Ringkas)
1. Implementasi Wawasan Nusantara sehari-hari?
Caranya: gak ikut provokasi SARA, dukung produk lokal, dan jaga ruang sosial biar gak gampang dipecah.
2. Prioritas geoekonomi untuk kurangi gap Barat–Timur?
Bangun konektivitas laut, pendidikan vokasi, dan industri berbasis potensi lokal di Timur.
3. Perubahan iklim sebagai ancaman?
Pulau bisa tenggelam, garis pangkal berubah, ZEE terancam, dan penduduk pesisir harus direlokasi.
4. Apakah polarisasi & hoax mengikis Wawasan Nusantara?
Iya, karena menghancurkan kepercayaan sosial. Tanpa trust, kesatuan politik runtuh.
5. Peran daratan dalam Poros Maritim Dunia?
Pedalaman menyediakan bahan baku, tenaga kerja, pasar, dan konektivitas logistik untuk mendukung ekonomi maritim.
A. Pertanyaan Pemantik
ReplyDelete1. Mengapa Deklarasi Djuanda krusial?
Karena menetapkan Indonesia sebagai negara kepulauan, menjadikan laut pemersatu wilayah, dan menjadi dasar pengakuan internasional lewat UNCLOS 1982.
2. Bagaimana ZEE memengaruhi geoekonomi Indonesia?
ZEE memberi hak eksklusif atas sumber daya laut sehingga mendorong strategi ekonomi maritim, pengawasan perbatasan, dan peningkatan diplomasi serta keamanan laut.
3. Jalur maritim penting selain Selat Malaka?
Selat Sunda, Selat Lombok, Selat Makassar, dan Ombai–Wetar. Semuanya merupakan rute perdagangan internasional penting dan jalur alternatif global yang menghubungkan Samudra Hindia–Pasifik.
4. Tantangan jika Indonesia tidak diakui UNCLOS?
Sengketa maritim meningkat, hak eksploitasi sumber daya melemah, pengawasan laut sulit, dan kedaulatan wilayah menjadi rentan.
5. Hubungan Gatra Sosbud dan Hankam?
Kohesi sosial-budaya menciptakan stabilitas nasional, yang menjadi fondasi utama efektivitas pertahanan dan keamanan.
B. Pertanyaan Reflektif
1. Implementasi Wawasan Nusantara sehari-hari?
Dengan bersikap toleran, menghindari SARA/hoaks, mendukung produk lokal, dan menjaga lingkungan sekitar.
2. Strategi geoekonomi untuk kurangi kesenjangan Barat–Timur?
Perkuat konektivitas, bangun pusat ekonomi berbasis potensi lokal, tingkatkan kualitas SDM, dan beri insentif investasi ke wilayah timur.
3. Dampak perubahan iklim bagi geopolitik & geoekonomi?
Mengancam pulau kecil, merusak ekosistem perikanan, mengganggu pelabuhan, dan memicu migrasi serta potensi sengketa wilayah.
4. Apakah polarisasi & hoaks mengikis Wawasan Nusantara?
Ya, karena memecah persatuan nasional, melemahkan kepercayaan publik, dan menciptakan konflik identitas yang merusak kesatuan politik.
5. Bagaimana daratan mendukung Poros Maritim Dunia?
Dengan membangun jalur logistik darat–laut, mengolah komoditas lokal di pedalaman, memperkuat infrastruktur, dan memberdayakan ekonomi masyarakat hinterland.
Dennis Ramadhan e16
ReplyDeletepertanyaan pemantik
1. Deklarasi Djuanda sangat krusial karena berhasil menyatukan seluruh perairan antar-pulau sebagai wilayah kedaulatan Indonesia. Deklarasi ini mengubah pandangan lama bahwa laut adalah pemisah menjadi laut sebagai penyatu, dan menjadi dasar hukum untuk memperjuangkan pengakuan internasional atas negara kepulauan.
2. Konsep ZEE membuat Indonesia memiliki hak berdaulat atas sumber daya laut hingga 200 mil laut, sehingga strategi geoekonomi kini fokus pada penguatan perikanan, energi laut, bioteknologi, dan pemberantasan IUU fishing. ZEE juga memperluas ruang ekonomi Indonesia untuk hilirisasi dan diplomasi maritim.
3. Selat Sunda, Selat Lombok, dan koridor Ombai–Wetar memiliki nilai geoekonomi global karena menjadi jalur vital perdagangan internasional. Jalur ini menjadi alternatif dari Selat Malaka bagi kapal besar dan berperan dalam kelancaran logistik, energi, serta keamanan pelayaran dunia.
4. Tanpa pengakuan UNCLOS 1982, Indonesia akan menghadapi kesulitan menegakkan kedaulatan laut, rentan terhadap klaim negara lain, dan kehilangan kontrol atas sumber daya maritim. Perikanan ilegal, konflik batas, dan ketidakpastian investasi akan meningkat secara signifikan.
5. Gatra Sosial Budaya dan Gatra Hankam saling menguatkan, karena kohesi sosial dan toleransi membuat bangsa lebih sulit dipecah, sementara stabilitas pertahanan keamanan memberi ruang aman bagi berkembangnya nilai budaya, identitas, dan keragaman masyarakat.
pertanyaan reflektif
1. Implementasi nilai Wawasan Nusantara dapat dilakukan dengan menghargai keberagaman, tidak menyebarkan hoaks, mendukung produk lokal, serta menjaga kerukunan dalam kehidupan sehari-hari. Sikap-sikap ini menunjukkan kepedulian pada persatuan dan kepentingan nasional.
2. Strategi prioritas untuk mengurangi kesenjangan Barat–Timur adalah memperkuat konektivitas dan membangun industri hilir berbasis sumber daya lokal di wilayah Timur. Ditambah peningkatan pendidikan vokasi, insentif investasi, dan pemberdayaan UMKM agar ekonomi daerah berkembang dari dalam.
3. Perubahan iklim dan kenaikan permukaan laut mengancam pulau-pulau kecil, permukiman pesisir, pangan, dan infrastruktur, serta bisa mengubah garis pantai yang berdampak pada batas maritim. Ini dapat menurunkan kapasitas ekonomi dan melemahkan kedaulatan jika tidak diantisipasi.
4. Polarisasi politik dan hoaks dapat mengikis Wawasan Nusantara karena melemahkan kepercayaan sosial dan memecah identitas bangsa. Namun dampaknya bisa ditekan melalui literasi digital, penegakan hukum, dan penguatan nilai kebangsaan di ruang publik.
5. Wilayah daratan dapat mendukung Poros Maritim Dunia melalui pembangunan rantai pasok yang terhubung ke pelabuhan, peningkatan kualitas produksi lokal, pengembangan ekowisata, serta penyediaan tenaga kerja terampil. Dengan demikian, daratan dan lautan bergerak bersama menopang geoekonomi nasional.
E-01 Reza Apriansyah
ReplyDeleteA. Pertanyaan Pemantik
1. Deklarasi Djuanda krusial karena menetapkan Indonesia sebagai negara kepulauan sehingga perairan antar-pulau menjadi wilayah kedaulatan. Ini yang kelak diakui di UNCLOS 1982 dan mengamankan integritas teritorial serta sumber daya laut.
2. ZEE memperluas ruang ekonomi Indonesia sampai 200 mil sehingga strategi geoekonomi fokus pada blue economy, perlindungan perikanan, energi laut, dan penguatan keamanan maritim.
3. Selat Sunda, Selat Lombok, Selat Makassar, dan Ombai–Wetar sangat penting karena menjadi rute alternatif perdagangan global dan jalur energi yang menghubungkan Samudra Hindia–Pasifik.
4. Tanpa pengakuan UNCLOS, perairan antar-pulau bisa dianggap laut internasional sehingga Indonesia kehilangan kontrol sumber daya, rentan sengketa batas, dan lebih sulit menjaga keamanan maritim.
5. Gatra Sosbud memberi kohesi dan identitas nasional; Gatra Hankam membutuhkan stabilitas sosial tersebut agar pertahanan negara efektif.
⸻
B. Pertanyaan Reflektif
1. Implementasi Wawasan Nusantara tercermin dalam toleransi SARA, mendukung produk lokal, serta tidak menyebarkan hoaks.
2. Prioritas: pembangunan konektivitas, kawasan industri berbasis sumber daya lokal di Timur, penguatan SDM, dan pengembangan blue economy.
3. Kenaikan air laut mengancam pulau kecil, garis pangkal, perikanan, infrastruktur pesisir, dan berpotensi mengurangi wilayah serta stabilitas sosial-ekonomi.
4. Polarisasi dan hoaks dapat mengikis Wawasan Nusantara karena melemahkan persatuan politik; namun dapat ditahan melalui literasi digital, penegakan hukum, dan dialog publik.
5. Daratan mendukung Poros Maritim melalui logistik intermodal, industri pengolahan, layanan pendukung maritim, dan konservasi ekosistem yang menjaga kesehatan laut.
A. Pertanyaan Pemantik (Diskusi Awal)
ReplyDelete1. Mengapa Deklarasi Djuanda dianggap sebagai momen paling krusial dalam sejarah geopolitik Indonesia?
Karena Deklarasi Djuanda menyatukan laut dan darat Indonesia sebagai satu wilayah utuh, sehingga memperkuat kedaulatan dan keutuhan NKRI secara hukum dan politik.
2. Bagaimana konsep ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) memengaruhi strategi geoekonomi Indonesia saat ini?
ZEE memberi hak Indonesia mengelola sumber daya laut hingga 200 mil, sehingga menjadi dasar penguatan ekonomi maritim, perikanan, dan energi laut.
3. Selain Selat Malaka, jalur maritim manakah di Indonesia yang memiliki signifikansi geoekonomi global? Jelaskan alasannya.
Selat Sunda dan Selat Lombok, karena menjadi jalur pelayaran utama perdagangan internasional dan distribusi energi antara Samudra Hindia dan Pasifik.
4. Seandainya geopolitik Indonesia tidak diakui melalui UNCLOS 1982, tantangan besar apa yang akan dihadapi oleh negara kepulauan seperti Indonesia?
Indonesia akan kehilangan kepastian hukum atas wilayah lautnya, rawan konflik perbatasan, dan sulit melindungi sumber daya kelautan.
5. Dalam konteks Panca Gatra, apa hubungan paling mendasar antara Gatra Sosial Budaya dan Gatra Hankam?
Kehidupan sosial yang rukun memperkuat pertahanan negara, sementara keamanan yang stabil menjaga masyarakat tetap harmonis.
B. Pertanyaan Reflektif (Pemikiran Mendalam)
1. Sejauh mana Anda sebagai warga negara telah mengimplementasikan nilai-nilai Wawasan Nusantara dalam kehidupan sehari-hari?
Dengan menghargai perbedaan, tidak menyebarkan hoaks, menggunakan produk lokal, dan menjaga persatuan dalam pergaulan.
2. Jika Anda adalah Menteri Perencanaan Pembangunan, strategi geoekonomi baru apa yang akan Anda prioritaskan untuk mengurangi kesenjangan pembangunan antara Indonesia bagian Barat dan Timur?
Memperkuat infrastruktur, membuka industri berbasis potensi daerah Timur, dan meningkatkan kualitas SDM.
3. Bagaimana perubahan iklim dan kenaikan permukaan air laut dapat menjadi tantangan eksistensial bagi geopolitik dan geoekonomi Indonesia?
Mengancam wilayah pesisir, merusak ekonomi maritim, dan memengaruhi stabilitas wilayah.
4. Wawasan Nusantara menuntut kesatuan politik. Tantangan polarisasi politik dan penyebaran berita bohong (hoax) saat ini, apakah mengikis Wawasan Nusantara? Berikan analisis kritis Anda.
Iya, karena polarisasi dan hoaks memecah persatuan, menurunkan kepercayaan publik, dan memicu konflik sosial jika tidak dikendalikan.
5. Visi Poros Maritim Dunia berfokus pada laut. Bagaimana daratan (misalnya pulau-pulau di pedalaman) dapat secara aktif berintegrasi dan mendukung visi geoekonomi ini?
Daratan berperan sebagai pusat produksi, pengolahan, logistik, dan distribusi hasil laut ke seluruh wilayah.
E44_Aurel Irza Safira
ReplyDeleteA. Pertanyaan Pemantik (Diskusi Awal)
1. Karena menetapkan laut antar-pulau sebagai wilayah kedaulatan Indonesia, memperkuat keutuhan NKRI, memperluas wilayah laut, dan menjadi dasar pengakuan Indonesia sebagai negara kepulauan dalam UNCLOS 1982.
2. ZEE memberi hak berdaulat atas sumber daya hingga 200 mil laut, sehingga Indonesia dapat mengembangkan ekonomi maritim, melindungi sumber daya, memperkuat keamanan laut, dan mendukung visi poros maritim dunia.
3.
• Selat Sunda – jalur alternatif antara Hindia dan Laut Jawa.
• Selat Lombok – cocok untuk kapal besar, menjadi rute pelayaran internasional.
• Selat Makassar – bagian ALKI II, vital bagi perdagangan Asia–Pasifik.
4. Wilayah berpotensi terfragmentasi, kontrol keamanan melemah, eksploitasi SDA sulit, dan sengketa internasional meningkat.
5. Identitas, nilai, dan solidaritas sosial-budaya memperkuat dukungan terhadap pertahanan-keamanan; sebaliknya stabilitas hankam menjaga perkembangan sosial-budaya. Keduanya saling menopang ketahanan nasional.
B. Pertanyaan Reflektif (Pemikiran Mendalam)
1. Sebagai mahasiswa baru, saya berusaha menerapkan Wawasan Nusantara dengan menghargai perbedaan SARA di kampus, tidak mudah terpancing provokasi, serta aktif membangun pergaulan yang inklusif. Saya juga berupaya mendukung produk lokal dan UMKM, baik dalam konsumsi maupun promosi di media sosial. Bagi saya, hal kecil seperti itu mencerminkan rasa persatuan dan keberpihakan pada pembangunan nasional.
2. Saya akan memprioritaskan strategi yang memperkecil kesenjangan Barat–Timur, seperti:
• Pembangunan infrastruktur logistik yang merata (pelabuhan, bandara kecil, dan akses jalan).
• Mendorong pusat industri baru di Kawasan Timur Indonesia agar tidak semua terpusat di Jawa.
• Pengembangan ekonomi maritim dan perikanan modern di Maluku, Papua, dan NTT.
• Menarik investasi teknologi hijau agar daerah timur punya daya saing global.
3. Perubahan iklim dapat menjadi ancaman serius karena:
• Kenaikan permukaan laut mengancam pulau kecil, pesisir, dan jalur logistik.
• Kerusakan ekosistem laut mengganggu perikanan yang menjadi tumpuan ekonomi banyak daerah.
• Potensi migrasi penduduk dari pesisir ke pedalaman dapat menciptakan tekanan sosial dan konflik ruang. Secara geopolitik, Indonesia harus menjaga wilayah yang berpotensi tenggelam agar tidak memicu klaim negara lain.
4. Menurut saya, iya, karena polarisasi membuat masyarakat terpecah menjadi kelompok-kelompok yang saling curiga. Hoax memperkeruh suasana dengan memperkuat kebencian dan merusak rasa persatuan. Semangat Wawasan Nusantara yang menekankan kesatuan politik dan solidaritas nasional menjadi lemah jika masyarakat mudah diprovokasi. Mahasiswa seperti saya perlu belajar berpikir kritis, memeriksa informasi, dan tidak ikut menyebarkan disinformasi.
5. Walaupun fokusnya laut, daratan tetap penting. Pulau-pulau dan wilayah pedalaman dapat mendukung visi ini dengan:
• Menyediakan pusat logistik, industri pengolahan, dan perikanan yang terhubung dengan pelabuhan.
• Mengembangkan SDM maritim melalui pendidikan vokasi dan kampus-kampus daerah.
• Mendukung rantai pasok nasional, misalnya pangan dan energi yang menunjang aktivitas pelabuhan dan maritim. Dengan cara itu, wilayah daratan ikut memperkuat Indonesia sebagai negara maritim yang terintegrasi.
Jawaban Pemantik:
ReplyDelete1. Deklarasi Djuanda tahun 1957 dianggap momen krusial karena menyatakan Indonesia sebagai negara kepulauan utuh, mengintegrasikan perairan antarpulau ke dalam wilayah kedaulatan nasional. Langkah ini memperluas batas negara secara signifikan dan menjadi fondasi diplomasi maritim modern.
2. Konsep Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) memengaruhi strategi geoekonomi Indonesia dengan memberikan hak pengelolaan sumber daya laut hingga 200 mil, mendukung sektor perikanan, migas, dan perdagangan maritim. Saat ini, ZEE memperkuat ekonomi melalui investasi berkelanjutan dan ketahanan pangan nasional.
3. Selain Selat Malaka, Selat Sunda, Lombok, dan Makassar bernilai geoekonomi global sebagai titik chokepoint yang menyalurkan 40% perdagangan dunia dari Hindia ke Pasifik. Jalur ini krusial untuk aliran energi dan barang ke negara besar seperti China serta peluang pelayaran lokal.
4. Jika geopolitik Indonesia tak diakui UNCLOS 1982, tantangan utama meliputi sengketa batas laut dengan tetangga, klaim asing atas ZEE seperti di Natuna, dan kelemahan kedaulatan pulau terluar. Negara kepulauan ini berisiko konflik diplomatik serta pembatasan akses sumber daya alam.
5. Hubungan mendasar dalam Panca Gatra adalah gatra sosial budaya yang harmonis memperkuat gatra Hankam melalui stabilitas masyarakat dan penghormatan hak asasi. Ketahanan budaya berbasis Pancasila menjadi pondasi pertahanan nasional yang kokoh.
Jawaban Reflektif:
1. Sebagai warga negara, saya menerapkan nilai Wawasan Nusantara dengan mengedepankan toleransi terhadap isu SARA melalui diskusi damai dan menyebarkan contoh kerukunan. Saya juga mendukung produk lokal untuk memperkuat ekonomi dan persatuan bangsa, meski pengaruh global tetap menjadi tantangan.
2. Jika jadi Menteri Perencanaan Pembangunan, saya prioritaskan pengembangan kawasan ekonomi terintegrasi di wilayah Timur, mempercepat infrastruktur seperti jalan dan pelabuhan, mendorong industri agro dan pariwisata dengan insentif, serta meningkatkan SDM lewat pelatihan vokasi. Tujuannya mengurangi kesenjangan pembangunan dengan Barat.
3. Perubahan iklim dan naiknya permukaan air laut menjadi tantangan geopolitik karena dapat memicu sengketa maritim dan konflik migrasi penduduk pesisir. Dari sisi geoekonomi, kerusakan infrastruktur pelabuhan dan lahan produktif mengganggu perdagangan dan ekspor, ancam keberlanjutan pulau kecil, memerlukan langkah diplomasi dan pertahanan yang terintegrasi.
4. Polarisasi politik dan hoaks berpotensi mengikis persatuan Wawasan Nusantara karena memecah masyarakat dan memicu konflik. Digitalisasi memperbesar risiko disinformasi, terutama bagi pemuda. Namun, pendidikan kewarganegaraan dan regulasi media dapat memperkuat ketahanan bangsa terhadap ancaman ini
5. Daratan dan pulau pedalaman dapat mendukung visi Poros Maritim Dunia dengan membangun konektivitas logistik darat-laut, mengembangkan agroforestry dan ekowisata yang relevan dengan industri maritim, serta memberdayakan masyarakat melalui pelatihan berbasis maritim untuk mendukung distribusi dan produksi laut.
Pertanyaan Pemantik (Diskusi Awal)
ReplyDelete1. Mengapa Deklarasi Djuanda dianggap sebagai momen paling krusial dalam sejarah geopolitik Indonesia?
Deklarasi Djuanda (13 Desember 1957) krusial karena tegaskan kedaulatan perairan antar-pulau sebagai wilayah tunggal, tolak laut bebas kolonial Belanda, perluas laut 2x lipat via diplomasi hingga UNCLOS 1982.
2. Bagaimana konsep ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) memengaruhi strategi geoekonomi Indonesia saat ini?
ZEE beri hak eksplorasi sumber daya hayati/non-hayati di 2,9 juta km² (UU No. 5/1983), dukung ketahanan pangan/energi, kelola konservasi, kabel laut, awasi illegal fishing sambil izinkan pelayaran internasional.
3. Selain Selat Malaka, jalur maritim manakah di Indonesia yang memiliki signifikansi geoekonomi global? Jelaskan alasannya.
Selat Sunda, Lombok, Makassar: chokepoint 40% perdagangan dunia, rute alternatif kapal besar Hindia-Pasifik, dukung konektivitas Asia-Pasifik, investasi pelabuhan, logistik global.
4. Seandainya geopolitik Indonesia tidak diakui melalui UNCLOS 1982, tantangan besar apa yang akan dihadapi oleh negara kepulauan seperti Indonesia?
Hilang status archipelagic state, ZEE direbut tetangga, hak sumber daya laut lenyap, wilayah terfragmentasi seperti kolonial, kedaulatan nasional melemah meski batasi kapal asing.
5. Dalam konteks Panca Gatra, apa hubungan paling mendasar antara Gatra Sosial Budaya dan Gatra Hankam?
Timbal balik: sosial budaya harmonis (identitas nasional) stabilkan Hankam; Hankam lindungi budaya dari konflik etnis/ancaman luar, jaga kesatuan Wawasan Nusantara.
Pertanyaan Reflektif (Pemikiran Mendalam)
1. Sejauh mana Anda sebagai warga negara telah mengimplementasikan nilai-nilai Wawasan Nusantara dalam kehidupan sehari-hari (misalnya dalam menyikapi isu SARA atau produk lokal)?
Implementasi: toleransi SARA via Bhinneka Tunggal Ika, hindari polarisasi medsos, prioritaskan produk UMKM lokal untuk ketahanan ekonomi dan identitas nusantara.
2. Jika Anda adalah Menteri Perencanaan Pembangunan, strategi geoekonomi baru apa yang akan Anda prioritaskan untuk mengurangi kesenjangan pembangunan antara Indonesia bagian Barat dan Timur?
Prioritas: infrastruktur fisik-digital KTI (pelabuhan/internet), ekonomi biru lokal, SDM via vokasi/e-commerce; transformasi KTI jadi pusat logistik ASEAN dengan insentif industri laut.
3. Bagaimana perubahan iklim dan kenaikan permukaan air laut dapat menjadi tantangan eksistensial bagi geopolitik dan geoekonomi Indonesia?
Kenaikan 1m (2050) tenggelamkan 2.000 pulau, rusak ekosistem pesisir (Jakarta/Jawa Utara); konflik ZEE, hilang produktivitas perikanan/pelabuhan.
4. Wawasan Nusantara menuntut kesatuan politik. Tantangan polarisasi politik dan penyebaran berita bohong (hoax) saat ini, apakah mengikis Wawasan Nusantara? Berikan analisis kritis Anda.
Ya, picu konflik identitas daerah/post-truth (disinformasi SARA pemilu); kritis: butuh literasi digital/regulasi, pendidikan Pancasila cegah disintegrasi.
5. Visi Poros Maritim Dunia berfokus pada laut. Bagaimana daratan (misalnya pulau-pulau di pedalaman) dapat secara aktif berintegrasi dan mendukung visi geoekonomi ini?
Integrasi via infrastruktur darat-laut, industri pengolahan laut, SDM logistik ASEAN; jadi hub distribusi/agroindustri, maksimalkan 4 chokepoint maritim.
A. Jawaban pemantik
ReplyDelete1. Karena adanya deklarasi juanda ini mengubah konsep wilayah indonesia, menyatukan seluruh pulau dan perairan ke dalam satuan hukum. Sehingga, deklarasi juanda sangat berdampak terhadap geopolitik indonesia sebagai keamanan pembatasan laut, pengolahan sumber daya laut. Tanpa deklarasi juanda indonesia tidak akan mendapatkan pengakuan resmi atas suatu wilayah.
2. Konsep ZEE yaitu memberi indonesia hak ekslusif untuk memanfaatkan sumber daya alam di wilayah laut sejauh 200 mil laut, hal ini membuat indonesia memiliki salah satu wilayah penangkapan ikan terbesar di dunia, membuat Indonesia berada pada jalur perdagangan global dan hal ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan ekonomi di indonesia dengan baik.
3. ▪︎ selat sunda : jalur inilah yang di lewati untuk perdagangan energi dan barang dari timur tengah ke asia timur
▪︎ selat lombok : jalur strategis untuk AS,china, australia dan jepang
▪︎ selat makassar : jalur penting untuk logistik industri di Kalimantan, sulawesi dan filipina
▪︎ laut natuna: jalur navigasi internasional menuju laut china selatan
▪︎ laut banda : jalur ekspor komoditas dari australia utara ke timor leste.
4. Tantangan yang akan dihadapi negara kepulauan seperti indonesia yaitu :
▪︎ banyak nya kapal asing yang bebas masuk
▪︎ hilangnya akses terhadap sumber daya laut
▪︎ akan ada banyak nya negara tetangga yang mengklaim wilayah laut indonesia
5. Sosial budaya menciptakan ketahanan internal masyarakat, sedangkan hankam menjaga kedaulatan dan keamanan eksternal dan internal. Jadi kedua nya saling menopang ketahanan nasional, tana sosial budaya yang kuat, hankam akan lemah. Tanpa hankam yang kuat , sosial budaya tidak terlindungi.
B. Jawaban reflektif
1. Nilai-nilai wawasan Nusantara:
•. Membeli barang-barang lokal
• tidak mengejek teman yg berbeda ras ataupun suku
• menghormati agama orang lain
2. Memprioritaskan pengembangan sumber daya manusia untuk meningkatkan kualitas manusia agar mampu berkontribusi pada pembangunan dimasa mendatang, bukan hanya fokus pada pendidikan tetapi juga kesehatan serta pelatihan kerja yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi indonesia.
3. Bagi geopolitik kenaikan permukaan air akan berdampak pada:
▪︎ akan ada banyak penduduk yang tinggal di pesisir pantai memilih pindah ke kota, dan hal tersebut dapat mempengaruhi stabilitas politik
▪︎ kenaikan permukaan laut dapat menenggelamkan pulau pulau kecil
Bagi geoekonomi kenaikan permukaan air laut akan berdampak:
▪︎ naik nya permukaan air lau akan merusakan fasilitas umum yang ada di sekitar nya
▪︎ berkurangnya hasil perikanan yang ada
▪︎ terjadi gangguan logistik nasional
4. . ya hal itu dapat berpengaruh, karena wawasan nusantara dibangun dengan kepercayaan masyarakat terhadap negara dan solidaritas masyarakat.jika terjadi polusi politik maka masyarakat tidak akan percaya oleh masyarakat dan dapat melemahkan kesatuan politik. Jika penyebaran hoaks semakin marak pastinya akan berdampak pada konflik sosial antara ras, suku atau agama.
5. Cara mendukung visi geoekonomi yaitu dengan mengembangkan umkm dengan memanfaatkan platfrom digital, menjaga identitas budaya, mempertahankan produksi rempah-rempah, kerajinan tangan, dll
jawaban pertanyaan pemantik
ReplyDelete1. Deklarasi Djuanda pada 13 Desember 1957 mengubah pandangan dunia terhadap Indonesia dengan mendefinisikan lautan sebagai penghubung antar pulau, bukan pemisah, sehingga lahir konsep negara kepulauan yang utuh. Momen ini krusial karena membuka jalan pengakuan internasional via UNCLOS 1982, menambah luas wilayah dari 2 juta km² menjadi lebih dari 5 juta km², dan melahirkan Wawasan Nusantara sebagai fondasi geopolitik.
2. Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) memberi Indonesia hak ekslusif atas sumber daya laut hingga 200 mil laut, mendukung sektor perikanan, minyak, gas, dan energi terbarukan yang menyumbang triliunan rupiah bagi perekonomian. Strategi geoekonomi kini bergantung pada ZEE untuk ketahanan pangan, lapangan kerja, industri maritim, serta infrastruktur digital seperti kabel data global yang melintas wilayah ini.
3. Selain Selat Malaka, Selat Sunda dan Selat Lombok punya peran geoekonomi global. Selat Sunda jadi jalur alternatif bagi kapal besar dari Samudra Hindia ke Laut Jawa, mendukung perdagangan domestik dan internasional. Selat Lombok vital untuk kapal raksasa yang hindari Malaka, salurkan energi ke Asia dan Australia, dengan potensi nilai ekonomi Rp5,5 triliun dari sumber daya sekitarnya.
4. Tanpa UNCLOS 1982, Indonesia bakal hadapi sengketa batas laut dengan tetangga, klaim tumpang tindih, dan kurangnya hak atas ZEE serta perairan kepulauan. Negara kepulauan seperti ini rentan konflik maritim, pembajakan, pencurian ikan, serta lemahnya infrastruktur dan penegakan hukum laut. Pengakuan ini jadi jembatan hak kedaulatan, hindari ketidakpastian regulasi yang hambat investasi.
5. Dalam Panca Gatra Wawasan Nusantara, Gatra Sosial Budaya (kehidupan serasi, dinamis, berbudaya) jadi pondasi utama Gatra Hankam (pertahanan-keamanan). Sosial budaya stabil ciptakan iklim aman untuk hankam yang hormati hak individu, sementara hankam kuat lindungi nilai budaya dari konflik. Keduanya saling pengaruhi: kelemahan satu gatra picu masalah di gatra lain, pastikan sinergi ketahanan nasional.
JAWABAN PERTANYAAN REFLEKSI
1. Implementasi Nilai-Nilai Wawasan Nusantara
Wawasan Nusantara mendorong pengakuan terhadap keberagaman sebagai kekayaan bangsa, yang diterapkan sehari-hari melalui sikap toleran terhadap perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) serta dukungan produk lokal. Contohnya, menghindari diskriminasi isu SARA dengan membangun harmoni sosial, sementara mempromosikan produk lokal seperti kuliner atau kerajinan daerah memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
2. Strategi Geoekonomi Mengurangi Kesenjangan Barat-Timur
Prioritas utama mencakup pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Kawasan Industri (KI), dan Proyek Strategis Nasional (PSN) di luar Jawa untuk ciptakan pusat pertumbuhan baru. Fokus pada infrastruktur seperti jalan dan pelabuhan di Indonesia Timur akan dorong pengolahan sumber daya lokal.
3. Tantangan Eksistensial Perubahan Iklim bagi Geopolitik-Geoekonomi
Kenaikan permukaan air laut akibat perubahan iklim mengancam penggenangan pesisir, banjir, dan intrusi air ke daratan rendah, di mana 75% penduduk Asia Pasifik termasuk Indonesia tinggal. Secara geopolitik, ini ganggu jalur perdagangan laut strategis Indonesia di antara Samudra Hindia-Pasifik, sementara geoekonomi terdampak kerugian infrastruktur dan potensi ekonomi pesisir.
4. Analisis Kritis Polarisasi dan Hoax terhadap Wawasan Nusantara
Polarisasi politik dan hoax mengikis kesatuan politik Wawasan Nusantara dengan ciptakan perpecahan sosial, kurangi kepercayaan pada pemerintah, dan picu konflik horizontal. Hoax via media sosial, naik 35% saat Pemilu 2019, melemahkan kohesi nasional mirip ancaman ketahanan nasional.
5. Integrasi Daratan dalam Visi Poros Maritim Dunia
Pulau-pulau pedalaman integrasikan melalui infrastruktur darat-laut hybrid, seperti jalan penghubung ke pelabuhan, untuk suplai sumber daya ke pusat maritim. Dukungan geoekonomi datang dari pengolahan lokal (pertanian, pertambangan) yang ekspor via jalur laut, plus budaya maritim yang libatkan seluruh nusantara.
RAIHAN BINTANG WIRAYUDHA
ReplyDeleteE 02
1) Mengapa Deklarasi Djuanda dianggap sebagai momen paling krusial dalam sejarah geopolitik Indonesia?
Deklarasi Djuanda penting karena untuk pertama kalinya Indonesia menegaskan bahwa laut di antara pulau-pulau adalah bagian dari wilayah kedaulatan kita. Sebelum itu, secara hukum internasional, laut di antara pulau dianggap laut bebas. Dengan deklarasi ini, Indonesia bisa menyatukan ribuan pulau menjadi satu kesatuan wilayah maritim. Dampaknya besar: Indonesia lebih kuat menjaga kedaulatan, mengontrol jalur pelayaran, mengelola sumber daya laut, dan deklarasi ini juga menjadi dasar pengakuan internasional lewat UNCLOS 1982. Intinya, Deklarasi Djuanda adalah fondasi Indonesia sebagai negara kepulauan yang utuh.
2) Bagaimana konsep ZEE memengaruhi strategi geoekonomi Indonesia saat ini?
ZEE memberi hak kepada Indonesia untuk mengelola sumber daya laut hingga 200 mil dari garis pantai. Karena ini, strategi ekonomi Indonesia banyak diarahkan ke pengembangan sumber daya laut seperti perikanan, minyak dan gas lepas pantai, serta energi terbarukan. Pemerintah juga memperkuat pengawasan laut untuk mencegah pencurian ikan dan melindungi potensi ekonomi. Selain itu, ZEE mendorong Indonesia lebih aktif dalam diplomasi maritim dan negosiasi batas wilayah dengan negara tetangga. Jadi, ZEE membuat laut menjadi salah satu aset ekonomi utama Indonesia.
3) Selain Selat Malaka, jalur maritim apa di Indonesia yang punya signifikansi geoekonomi global?
Beberapa jalur yang penting antara lain:
Selat Lombok → jalur laut dalam yang bisa dilalui kapal besar, sehingga menjadi alternatif penting jika Selat Malaka padat.
Selat Sunda → menghubungkan Samudra Hindia ke Laut Jawa dan jalur distribusi ke pusat ekonomi di Jawa.
Selat Makassar → menghubungkan wilayah utara Indonesia ke Pasifik dan sering digunakan untuk rute perdagangan di kawasan timur.
Semua jalur ini penting karena menjadi rute internasional yang menghubungkan dua samudra besar (Hindia dan Pasifik) serta mendukung perdagangan global.
4) Jika geopolitik Indonesia tidak diakui melalui UNCLOS 1982, tantangan apa yang akan dihadapi?
Kalau Indonesia tidak mendapat pengakuan internasional, maka klaim kita atas wilayah laut bisa diperdebatkan negara lain. Kapal asing bisa bebas masuk dan mengambil sumber daya laut tanpa bisa dicegah. Indonesia juga akan kesulitan menentukan batas ZEE dan batas landas kontinen dengan negara tetangga. Ini bisa memicu banyak konflik, membuat kita susah mengembangkan ekonomi maritim, dan membuat keamanan maritim semakin lemah. Tanpa UNCLOS, kedaulatan Indonesia sebagai negara kepulauan akan jauh lebih sulit dipertahankan.
5) Dalam konteks Panca Gatra, apa hubungan Gatra Sosial Budaya dengan Gatra Hankam?
Hubungan paling mendasar adalah bahwa stabilitas sosial dan budaya masyarakat sangat memengaruhi keamanan nasional. Jika masyarakat rukun, punya identitas nasional kuat, dan budaya gotong royong masih hidup, maka ancaman terhadap keamanan lebih mudah diatasi. Sebaliknya, keamanan nasional yang baik juga membuat kehidupan sosial budaya masyarakat lebih aman dan terjaga. Jadi, keduanya saling mendukung: sosial budaya memperkuat pertahanan, dan pertahanan menjaga kelestarian sosial budaya.
Diah Resti Astuti - E07
ReplyDeleteA. Pertanyaan Pemantik
1. Deklarasi Djuanda (1957) menegaskan Indonesia sebagai negara kepulauan sehingga laut antarpulau menjadi wilayah kedaulatan Indonesia. Hal ini memperkuat kesatuan wilayah dan menjadi dasar pengakuan internasional dalam UNCLOS 1982.
2. Konsep ZEE memberi Indonesia hak kelola hingga 200 mil laut, memperkuat ekonomi maritim seperti perikanan, energi lepas pantai, dan mineral laut, sekaligus meningkatkan posisi Indonesia dalam perdagangan global.
3. Jalur maritim penting selain Selat Malaka antara lain Selat Sunda, Selat Lombok, Laut Sulawesi, dan Laut Natuna Utara, yang semua memiliki peran strategis bagi perdagangan dunia.
4. Tanpa pengakuan sebagai negara kepulauan dalam UNCLOS 1982, laut antarpulau bisa dianggap laut internasional, sehingga mengancam kedaulatan, keamanan maritim, dan kendali atas sumber daya.
5. Dalam Panca Gatra, sosial budaya menjadi pondasi pertahanan keamanan: persatuan, identitas, dan nilai gotong royong memperkuat stabilitas nasional.
B. Pertanyaan Refleksi
1. Implementasi Wawasan Nusantara tampak dalam sikap toleransi, tidak terprovokasi isu SARA, dukungan terhadap produk lokal, serta menjaga harmoni sosial.
2. Strategi mengurangi kesenjangan Barat–Timur meliputi pembangunan konektivitas, pengembangan koridor ekonomi berbasis potensi daerah, peningkatan SDM, dan insentif investasi.
3. Perubahan iklim mengancam pesisir, nelayan, dan batas wilayah negara; diperlukan adaptasi, restorasi pesisir, dan infrastruktur tahan bencana.
4. Polarisasi dan hoax dapat melemahkan kesatuan nasional, namun dapat diatasi dengan literasi digital, penegakan hukum, dan dialog publik sehat.
5. Visi Poros Maritim Dunia tetap melibatkan peran penting pedalaman melalui sumber daya darat, konektivitas darat–laut, UMKM, ekowisata, dan industri kreatif.
A. Pertanyaan Pemantik
ReplyDelete1. Deklarasi Djuanda (1957) menegaskan Indonesia sebagai negara kepulauan sehingga laut antarpulau menjadi wilayah kedaulatan Indonesia. Hal ini memperkuat kesatuan wilayah dan menjadi dasar pengakuan internasional dalam UNCLOS 1982.
2. Konsep ZEE memberi Indonesia hak kelola hingga 200 mil laut, memperkuat ekonomi maritim seperti perikanan, energi lepas pantai, dan mineral laut, sekaligus meningkatkan posisi Indonesia dalam perdagangan global.
3. Jalur maritim penting selain Selat Malaka antara lain Selat Sunda, Selat Lombok, Laut Sulawesi, dan Laut Natuna Utara, yang semua memiliki peran strategis bagi perdagangan dunia.
4. Tanpa pengakuan sebagai negara kepulauan dalam UNCLOS 1982, laut antarpulau bisa dianggap laut internasional, sehingga mengancam kedaulatan, keamanan maritim, dan kendali atas sumber daya.
5. Dalam Panca Gatra, sosial budaya menjadi pondasi pertahanan keamanan: persatuan, identitas, dan nilai gotong royong memperkuat stabilitas nasional.
B. Pertanyaan Refleksi
1. Implementasi Wawasan Nusantara tampak dalam sikap toleransi, tidak terprovokasi isu SARA, dukungan terhadap produk lokal, serta menjaga harmoni sosial.
2. Strategi mengurangi kesenjangan Barat–Timur meliputi pembangunan konektivitas, pengembangan koridor ekonomi berbasis potensi daerah, peningkatan SDM, dan insentif investasi.
3. Perubahan iklim mengancam pesisir, nelayan, dan batas wilayah negara; diperlukan adaptasi, restorasi pesisir, dan infrastruktur tahan bencana.
4. Polarisasi dan hoax dapat melemahkan kesatuan nasional, namun dapat diatasi dengan literasi digital, penegakan hukum, dan dialog publik sehat.
5. Visi Poros Maritim Dunia tetap melibatkan peran penting pedalaman melalui sumber daya darat, konektivitas darat–laut, UMKM, ekowisata, dan industri kreatif.
E50 fika nur fajriyyah
ReplyDeletePertanyaan Pemantik (Diskusi Awal)
1. > deklarasi djuanda menjadi kesatuan utuh yang berdaulat, yang menyatukan ribuan pulau dalam satu dalam satu wilayah kedaulatan indonesia yang ditandai dengan batas laut teritorial.
2. ZEE memperluas wilayah laut menjadi sumber daya alam, dan juga mendorong pembangunan ekonomi maritim seperti perikanan, pariwisata, serta ikut serta dalam meningkatkan kesejahteraan nelayan.
3. > selain selat malaka, ada selat sunda yang meghubungkan laut jawa drngan samusera hindia. ada selat lombok yang menghubungkan samudera hindia dan laut flores dan jawa. selat Makassar sebagai poros perdagangan regional Asia Timur-Australia dalam ALKI II. . Keseluruhan jalur ini tidak hanya mendukung konektivitas perdagangan dan keamanan energi global, tetapi juga menegaskan posisi Indonesia sebagai poros maritim dunia dengan pengaruh ekonomi dan keamanan yang mendalam.
4. > tantangan terbesarnya adalah kedaulatan laut akan melemah, sumber daha laut rawan dicuri, keamanan nasional iuga bisa terganggu seperti penyusupan dan penyelundupan.
5. stabilitas sosial budaya menjadi fondasi kuat. hubungan masyarakat yang rukun akan mudah bersatu dalam menghadapi ancaman.
Pertanyaan pemantik
1. > wawasan nusantara mengajarkan saya untuk bisa menghargai dan dan menghormati perbedaan suku, agama, ras, dan budaya bangsa sebagai sebuah kekayaan. dan saya sebisa mungkin berusaha untuk tidak ikut terlibat dalam ujaran kebencian maupun perilaku diskriminasi. saya juga akan mendukung produk lokal dengan menggunakan barang atau jasa dari produk UMKM, ini bentuk kontribusi saya dalam membantu pembangunan ekonomi nasional dan daerah.
2. saya akan mengembangkan sektor jasa dan pariwisata. harapannya bisa menciptakan permintaan domestik yang tinggi untuk produk lokal seperti kuliner dan kerajinan, serta lapangan pekerjaan
3. tantangan geopolitik: keutuhan wilayah terancam. seperti kenaikan air laut yg dapat menenggelamkan pulau pulau kecil
tangangan geoekonomi: rusaknya infrastruktur vital seperti pelabuhan, bandara, dan pemukiman di wilayah yg rentan banjir terhadap erosi kenaikan air laut.
4. > ya. sangat mungkin memicu konflik. polarisasi dan hoax dapat memecah belah antar kelompok, persatuan jadi melemah, akibatnya rasa persatuan bangsa jadi terkikis. masyarakat yang terpecah belah cenderung mudah terprovokasi, dan sulit berdamai. maka dari itu, masyarakat perlu meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan literasi digital agar mampu memilah informasi yang jelas.
5. daratan bisa jadi pusat industri pengolahan, seperti hasil
tambang, maupun pertanian. daratan juga bisa menyediakan berbagai pembangkit energi terbarukan. Dengan daratan sebagai mesin ekonomi, laut sebagai jalur konektivitas global akan punya daya tawar geoekonomi jauh lebih besar.