Wednesday, January 7, 2026

Globalisasi dalam Perspektif Kewarganegaraan

Materi Pembelajaran 15 :

Ringkasan

Materi ini mengeksplorasi fenomena globalisasi sebagai pedang bermata dua bagi bangsa Indonesia. Di satu sisi, globalisasi menawarkan integrasi ekonomi dan kemajuan teknologi; di sisi lain, ia menantang kedaulatan budaya dan identitas nasional yang berakar pada Pancasila.

Melalui pendekatan Pendidikan Kewarganegaraan, materi ini menganalisis pergeseran paradigma ekonomi, hibridasi budaya, serta strategi adaptasi masyarakat Indonesia dalam mempertahankan nilai-nilai lokal di tengah arus kosmopolitanisme.

Kata Kunci: Globalisasi, Identitas Nasional, Ekonomi Digital, Akulturasi, Kewarganegaraan Global, Pancasila.

1. Ontologi Globalisasi: Menelusuri Akar dan Dimensi

Globalisasi sering kali disederhanakan sebagai proses integrasi internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran, dan aspek-aspek kebudayaan lainnya. Namun, dalam studi Kewarganegaraan, globalisasi harus dilihat sebagai fenomena kompresi ruang dan waktu. Manfred B. Steger mendefinisikan globalisasi sebagai pengentalan kesadaran dunia sebagai satu kesatuan. Bagi Indonesia, ini bukan sekadar masalah perdagangan, melainkan masalah kedaulatan.

Secara dimensional, globalisasi mencakup empat pilar utama:

  • Dimensi Ekonomi: Ditandai dengan munculnya pasar bebas, korporasi transnasional (MNC), dan integrasi pasar keuangan.
  • Dimensi Politik: Melemahnya batas-batas negara bangsa dan munculnya organisasi supranasional (UN, WTO, ASEAN) yang mempengaruhi kebijakan domestik.
  • Dimensi Budaya: Aliran simbol, gambar, dan gaya hidup yang melintasi batas negara secara instan melalui teknologi informasi.
  • Dimensi Ideologi: Pertarungan antara neoliberalisme, globalisme, dan bangkitnya kembali sentimen nasionalisme atau identitas primordial.

2. Dampak Globalisasi Terhadap Budaya: Antara Standarisasi dan Resiliensi

Globalisasi budaya sering digambarkan sebagai arus satu arah dari Barat ke Timur (Westernisasi). Namun, realitas di lapangan menunjukkan dinamika yang lebih kompleks.

A. Ancaman Homogenisasi

Homogenisasi budaya atau sering disebut sebagai "McDonaldization" adalah kekhawatiran bahwa budaya lokal akan lenyap dan digantikan oleh budaya global yang seragam dan konsumtif. Di Indonesia, hal ini terlihat dari perubahan pola konsumsi masyarakat, terutama generasi Z, yang lebih akrab dengan brand global dibandingkan produk lokal. Bahasa daerah pun mulai mengalami penurunan penutur karena desakan bahasa internasional dan bahasa gaul yang terpengaruh media sosial.

B. Glokalisasi dan Hibridasi

Sebaliknya, muncul fenomena Glokalisasi (Global-Localization), di mana budaya global diserap namun dimodifikasi sesuai dengan cita rasa lokal. Contoh nyata di Indonesia adalah munculnya musik "Javanese Hip-Hop" atau fenomena kuliner seperti "Burger Rendang". Ini membuktikan bahwa masyarakat Indonesia tidak hanya menjadi objek pasif, tetapi juga subjek yang mampu melakukan negosiasi budaya.

C. Komodifikasi Budaya

Sisi negatif lainnya adalah komodifikasi, di mana nilai-nilai sakral budaya lokal (seperti tarian adat atau upacara spiritual) diubah menjadi sekadar komoditas pariwisata demi memenuhi selera pasar global. Dalam kacamata Kewarganegaraan, hal ini berisiko menghilangkan makna filosofis di balik identitas bangsa.

3. Dinamika Ekonomi: Neoliberalisme vs Ekonomi Pancasila

Dalam konteks ekonomi, globalisasi membawa janji kemakmuran namun juga ancaman ketimpangan.

A. Hegemoni Pasar Bebas

Globalisasi menuntut keterbukaan pasar yang luas. Bagi Indonesia, ini berarti persaingan langsung antara produk UMKM lokal dengan produk manufaktur dari negara maju atau negara dengan biaya produksi rendah seperti China. Tekanan dari lembaga internasional sering kali memaksa negara untuk mengurangi subsidi, yang menurut perspektif PKn, dapat mencederai semangat Pasal 33 UUD 1945 tentang kesejahteraan sosial.

B. Ekonomi Digital sebagai Peluang

Di sisi lain, globalisasi teknologi memberikan alat bagi masyarakat Indonesia untuk melompati batasan geografis. Ekonomi digital Indonesia adalah salah satu yang tercepat di Asia Tenggara. Platform dagang el (e-commerce) memungkinkan pengrajin di desa terpencil menjual produknya ke luar negeri. Ini adalah bentuk adaptasi ekonomi yang krusial untuk mempertahankan ketahanan nasional.

C. Ketimpangan dan Eksploitasi

Globalisasi ekonomi juga membawa risiko "perlombaan menuju standar terendah" (race to the bottom), di mana negara-negara berkembang berlomba menurunkan standar upah atau lingkungan demi menarik investasi asing. Tantangan warga negara adalah memastikan bahwa investasi global tidak merusak ekosistem alam nusantara.

4. Identitas Nasional di Tengah Gempuran Kosmopolitanisme

Identitas nasional adalah kompas bagi sebuah bangsa. Globalisasi menantang identitas ini melalui beberapa cara:

A. Krisis Loyalitas Negara

Munculnya konsep "Warga Dunia" membuat sebagian orang merasa tidak lagi terikat pada kewajiban nasionalnya. Loyalitas terhadap bangsa mulai luntur ketika individu merasa kepentingan pribadinya lebih terakomodasi oleh entitas global daripada negara sendiri.

B. Xenosentrisme vs Etnosentrisme

Dua kutub ekstrem muncul: Xenosentrisme (memuja apapun yang asing secara berlebihan) dan Etnosentrisme (reaksi defensif yang berlebihan dengan menolak segala hal asing). Keduanya berbahaya. Xenosentrisme menghilangkan harga diri bangsa, sementara etnosentrisme menutup pintu kemajuan. Pendidikan Kewarganegaraan hadir untuk menciptakan titik keseimbangan yang disebut "Nasionalisme Terbuka".

C. Pancasila sebagai Filter Ideologi

Globalisasi membawa ideologi transnasional seperti liberalisme ekstrem, individualisme, hingga radikalisme berbasis agama. Pancasila, sebagai philosophische grondslag, berfungsi sebagai filter. Sila ketiga, Persatuan Indonesia, menjadi pengikat di tengah keberagaman yang semakin cair akibat interaksi global.

5. Adaptasi Masyarakat Indonesia: Studi Kasus dan Realita

Masyarakat Indonesia memiliki sejarah panjang dalam beradaptasi dengan pengaruh luar tanpa kehilangan jati diri.

A. Revitalisasi Budaya melalui Media Sosial

Generasi muda Indonesia melakukan adaptasi kreatif. Gerakan "Berkain" yang viral di media sosial menunjukkan bagaimana kain tradisional (Batik, Tenun) dipadukan dengan gaya streetwear modern. Ini adalah cara adaptasi di mana identitas nasional tetap relevan dalam estetika global.

B. Ketahanan Pangan dan Kearifan Lokal

Di tengah krisis pangan global, banyak komunitas di Indonesia kembali ke kearifan lokal (seperti sistem lumbung padi atau diversifikasi pangan non-beras) sebagai bentuk kemandirian. Adaptasi ini menunjukkan bahwa solusi terhadap masalah global sering kali ditemukan dalam akar budaya lokal.

C. Diplomasi Budaya (Soft Power)

Masyarakat Indonesia mulai menggunakan instrumen globalisasi untuk melakukan "serangan balik" budaya. Melalui sektor kreatif (film, kuliner, dan musik), identitas Indonesia diperkenalkan sebagai bagian dari kekayaan global. Fenomena "Nasi Goreng" atau "Rendang" sebagai makanan terlezat di dunia adalah hasil dari adaptasi promosi yang modern.

6. Kewarganegaraan Digital dan Literasi Global

Di era ini, definisi "Warga Negara yang Baik" telah bergeser. Tidak lagi cukup hanya hafal UUD 1945, tetapi harus memiliki Literasi Digital.

  • Melawan Hoaks: Globalisasi informasi membawa banjir disinformasi. Warga negara yang cerdas harus mampu membedakan fakta dan opini agar tidak terjadi polarisasi sosial.
  • Civic Engagement: Menggunakan media sosial untuk menyuarakan ketidakadilan atau menggalang solidaritas sosial (seperti penggalangan dana digital) adalah bentuk adaptasi baru dalam bernegara.

7. Tantangan Masa Depan: Kecerdasan Buatan dan Kedaulatan Data

Globalisasi tahap selanjutnya akan didominasi oleh AI dan data. Siapa yang menguasai data, dia yang menguasai narasi. Bagi Indonesia, kedaulatan digital adalah harga mati. Masyarakat harus sadar bahwa setiap aktivitas digital mereka adalah bagian dari pertarungan kepentingan global. Adaptasi tidak lagi sekadar gaya hidup, tapi juga masalah proteksi keamanan nasional di ruang siber.

 

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan: Globalisasi bukanlah musuh yang harus dijauhi, melainkan realitas yang harus dikelola. Dampaknya terhadap ekonomi, budaya, dan identitas nasional bersifat ambivalen—menyediakan peluang sekaligus ancaman. Ketahanan identitas nasional Indonesia tidak terletak pada isolasi diri, melainkan pada kemampuan bangsa untuk melakukan sintesis antara nilai-nilai global dengan nilai luhur Pancasila. Masyarakat Indonesia telah menunjukkan adaptasi yang luar biasa, terutama melalui ekonomi kreatif dan digitalisasi budaya, namun kewaspadaan terhadap ideologi transnasional tetap harus ditingkatkan.

Saran:

  1. Penguatan Kurikulum: Pendidikan Kewarganegaraan di perguruan tinggi harus lebih aplikatif dengan menyentuh isu-isu global seperti perubahan iklim, etika AI, dan kedaulatan digital.
  2. Dukungan Industri Kreatif: Pemerintah perlu memberikan proteksi dan insentif lebih besar bagi produk budaya lokal agar mampu bersaing di pasar internasional tanpa kehilangan nilai aslinya.
  3. Literasi Kritis: Masyarakat luas perlu dibekali dengan kemampuan berpikir kritis dalam menerima arus informasi agar tidak mudah terprovokasi oleh agenda-agenda global yang merugikan persatuan bangsa.

 

Daftar Pustaka

Buku:

  • Appadurai, A. (1996). Modernity at Large: Cultural Dimensions of Globalization. University of Minnesota Press.
  • Azra, Azyumardi. (2007). Identitas dan Krisis Budaya: Membangun Multikulturalisme Indonesia. Jakarta: FE UI.
  • Castells, M. (2010). The Rise of the Network Society. Wiley-Blackwell.
  • Kaelan. (2016). Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan Tinggi. Yogyakarta: Paradigma.
  • Steger, M. B. (2017). Globalization: A Very Short Introduction. Oxford University Press.
  • Winarno. (2019). Paradigma Baru Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Bumi Aksara.

Jurnal:

  • Hidayat, R. (2021). "Globalisasi dan Masa Depan Negara-Bangsa: Perspektif Ketahanan Nasional." Jurnal Ketahanan Nasional, 27(1).
  • Pranadji, T. K. (2010). "Penguatan Modal Sosial Budaya dalam Memperkokoh Karakter Bangsa." Jurnal Forum Penelitian Agro Ekonomi.
  • Suryono, S. (2020). "Tantangan Identitas Nasional di Era Disrupsi." Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 7(2).
  • Wibowo, A. S. (2018). "Pancasila dalam Arus Globalisasi Ekonomi." Jurnal Pemikiran Sosiologi.

 

Glossary (Glosarium)

  • Akulturasi: Proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing.
  • Civic Literacy: Kemampuan warga negara untuk memahami, menganalisis, dan berpartisipasi dalam proses demokrasi.
  • Digital Sovereignty (Kedaulatan Digital): Kekuasaan negara untuk mengatur dan mengontrol infrastruktur digital dan data di wilayahnya.
  • Glokalisasi: Penyesuaian produk atau jasa global agar sesuai dengan hukum, budaya, atau selera lokal.
  • Homogenisasi: Proses menjadikan sesuatu seragam atau sama dalam hal karakter atau sifat.
  • Identitas Primordial: Ikatan yang dibawa sejak lahir seperti suku, agama, dan ras.
  • Neoliberalisme: Paham ekonomi yang menekankan pada pasar bebas, privatisasi, dan pengurangan peran negara dalam ekonomi.
  • Soft Power: Kemampuan suatu negara untuk mempengaruhi pihak lain melalui daya tarik budaya dan nilai-nilai, bukan melalui kekerasan militer.
  • Transnasionalisme: Fenomena di mana hubungan sosial, ekonomi, dan politik melampaui batas-batas negara bangsa.
  • Xenosentrisme: Kecenderungan untuk lebih menyukai budaya, gaya hidup, atau produk asing daripada milik sendiri.

 

Pertanyaan Reflektif

  1. Jika hari ini internet hilang selamanya, bagian mana dari identitas saya sebagai warga negara yang tetap bertahan?
  2. Apakah saya memilih produk asing karena kualitasnya, atau hanya karena gengsi sosial yang diciptakan oleh iklan global?
  3. Sejauh mana saya merasa bertanggung jawab atas masalah global seperti pemanasan global sebagai bentuk kewarganegaraan saya?
  4. Apakah saya pernah merasa malu menggunakan bahasa daerah di lingkungan perkuliahan yang modern? Mengapa?
  5. Dalam berinteraksi di media sosial, apakah saya lebih sering mempromosikan persatuan atau justru terjebak dalam perdebatan yang memecah belah?
  6. Bagaimana perasaan saya ketika melihat budaya Indonesia diakui atau diadopsi oleh negara lain? Apakah itu bentuk kemajuan atau pencurian?
  7. Apakah saya sudah memberikan dukungan nyata (membeli/mempromosikan) kepada pelaku usaha kecil di sekitar saya untuk melawan dominasi ritel global?
  8. Seberapa kritis saya saat membaca berita internasional? Apakah saya mencari sumber pembanding atau langsung memercayainya?
  9. Apakah nilai-nilai Pancasila masih menjadi rujukan utama saya dalam mengambil keputusan moral yang sulit?
  10. Apa warisan budaya Indonesia yang paling ingin saya lestarikan dan ceritakan kepada anak cucu saya kelak?

 

Pertanyaan Pemantik

  1. Apakah globalisasi adalah bentuk penjajahan baru (Neo-kolonialisme) dalam wujud ekonomi dan budaya?
  2. Mungkinkah suatu saat identitas "Bangsa Indonesia" hilang dan digantikan oleh identitas "Warga Asia" atau "Warga Dunia"?
  3. Mana yang lebih berbahaya bagi kedaulatan Indonesia: serangan militer atau serangan budaya lewat gadget?
  4. Apakah pasar bebas benar-benar "bebas" bagi negara berkembang seperti Indonesia, atau hanya menguntungkan negara maju?
  5. Jika teknologi AI bisa menerjemahkan semua bahasa secara instan, apakah belajar bahasa asing masih relevan di masa depan?
  6. Dapatkah Pancasila tetap eksis jika nilai-nilai individualisme global semakin mendominasi pola pikir generasi muda?
  7. Siapa yang lebih berpengaruh dalam membentuk perilaku masyarakat saat ini: Pemerintah atau Influencer media sosial global?
  8. Apakah penerapan pajak bagi perusahaan digital asing sudah cukup untuk menjaga keadilan ekonomi nasional?
  9. Bagaimana cara terbaik mengenalkan "Etika Pancasila" dalam pergaulan digital yang tanpa batas?
  10. Apakah kita harus menolak investasi asing demi menjaga kemandirian ekonomi, atau menerimanya dengan risiko ketergantungan?

 

1 comment:

  1. E30- Argia qatrunnada
    Jawaban Pertanyaan Reflektif
    1. Jika internet hilang selamanya, identitas saya sebagai warga negara tetap bertahan melalui nilai kebangsaan seperti cinta tanah air, kepedulian sosial, dan sikap taat pada aturan. Identitas itu tidak hanya dibentuk oleh teknologi, tetapi oleh nilai dan tindakan sehari-hari.
    2. Dalam memilih produk asing, saya sering kali tidak hanya mempertimbangkan kualitas, tetapi juga gengsi sosial yang dibentuk oleh iklan global. Hal ini membuat saya perlu lebih sadar dalam mendukung produk lokal.
    3. Saya merasa memiliki tanggung jawab terhadap masalah global seperti pemanasan global dengan cara sederhana, seperti mengurangi penggunaan plastik dan tidak boros energi, sebagai bagian dari warga dunia.
    4. Saya pernah merasa malu menggunakan bahasa daerah di lingkungan perkuliahan karena takut dianggap tidak modern atau kurang intelektual, padahal bahasa daerah adalah bagian dari identitas budaya.
    5. Saat berinteraksi di media sosial, saya terkadang lebih sering terlibat dalam perdebatan daripada mempromosikan persatuan, sehingga perlu lebih bijak dalam menyampaikan pendapat.
    6. Saya merasa bangga ketika budaya Indonesia diakui oleh negara lain karena itu menunjukkan kekayaan budaya bangsa, selama tetap ada penghargaan terhadap asal-usulnya.
    7. Saya belum sepenuhnya memberikan dukungan nyata kepada pelaku usaha kecil, meskipun saya sadar bahwa membeli produk lokal dapat membantu perekonomian masyarakat sekitar.
    8. Dalam membaca berita internasional, saya belum selalu bersikap kritis dan terkadang langsung mempercayainya tanpa mencari sumber pembanding.
    9. Nilai-nilai Pancasila masih menjadi pedoman saya dalam mengambil keputusan moral, terutama nilai kemanusiaan dan keadilan, meskipun penerapannya sering menghadapi tantangan.
    10. Warisan budaya Indonesia yang ingin saya lestarikan adalah bahasa daerah dan nilai gotong royong karena mencerminkan jati diri bangsa.

    Jawaban Pertanyaan Pemantik
    1. Globalisasi dapat menjadi bentuk penjajahan baru apabila negara berkembang hanya menjadi pasar bagi produk dan budaya negara maju.
    2. Identitas Bangsa Indonesia tidak harus hilang meskipun identitas global berkembang, selama nilai nasional tetap dijaga.
    3. Serangan budaya melalui gadget lebih berbahaya karena dapat memengaruhi pola pikir dan gaya hidup generasi muda secara perlahan.
    4. Pasar bebas belum sepenuhnya adil bagi negara berkembang karena adanya ketimpangan modal dan teknologi.
    5. Belajar bahasa asing tetap relevan karena bahasa juga mencerminkan budaya dan cara berpikir, bukan sekadar alat komunikasi.
    6. Pancasila dapat tetap eksis jika nilainya diterapkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di dunia digital.
    7. Influencer media sosial saat ini lebih berpengaruh dalam membentuk perilaku masyarakat dibandingkan pemerintah.
    8. Penerapan pajak bagi perusahaan digital asing belum cukup jika tidak diiringi dengan regulasi yang adil dan tegas.
    9. Etika Pancasila dapat dikenalkan melalui literasi digital dan contoh perilaku yang baik di media sosial.
    10. Investasi asing perlu diterima dengan pengawasan yang ketat agar tidak menimbulkan ketergantungan ekonomi.

    ReplyDelete

Tugas Mandiri 15

Penyusunan Esai (Opini) Tema: "Nasionalisme dalam Arus Global: Tantangan dan Strategi Mempertahankan Jati Diri Bangsa" 1. Tuju...